By

Tentang Tragedi, Cinta Sejati, dan Iklan Premium Spotify

“Roti dan selai, bunga dan kumbang, Romeo dan Juliet. Beberapa hal dalam hidup memang ditakdirkan untuk selalu bersama. Sama halnya dengan—”

Mungkin banyak orang cuma hafal sampai bagian Romeo dan Juliet saja, tapi bisa jadi yang hafal sampai kata terakhir di iklan Spotify premium ini malah jauh lebih banyak lagi. Kata-kata dalam kalimat iklan yang sering sekali muncul di tengah-tengah pergantian lagu ini memang sangat catchy, begitu pun dengan suara mbak-mbak voice over yang terkesan kelewat ceria untuk mengingatkan bahwa: he, mau bebas dari suara saya? Makanya bayar.

Tetapi di samping suara mbak voice over yang sebenarnya enak didengar itu, isi kalimat iklannya juga lumayan menarik perhatian. Roti memang biasanya dimakan dengan selai, meskipun banyak juga orang-orang yang lebih suka ditaburi meses coklat. Bunga memang biasanya didatangi oleh kumbang-kumbang yang sedang mencari serbuk sari. Romeo pun memang ditakdirkan untuk bersama dengan Juliet—lho, memangnya iya?

Sebenarnya sepanjang menjadi pengguna setia Spotify gratisan, saya agak sebal mendengarkan iklan si Romeo dan Juliet ini. Tidak, sebenarnya saya lebih sebal pada kisah Romeo dan Juliet yang digadang-gadangkan sebagai true love; cinta sejati, sehidup, semati, begitu katanya. Padahal kalau mau diulik dari naskah aslinya—bukan yang versi film, apa lagi yang versi buku anak-anak—Romeo ini cuma remaja labil yang gampang pindah ke lain hati begitu tahu ada cewek yang lebih cantik dari Rosaline.

Tapi nder, Romeo dan Juliet itu so sweet banget, love at the first sight, saking cintanya sampai rela mengakhiri hidup karena nggak tahan kalau nggak hidup bersama! Sungguh tragis, nder!

Tidak peduli domisili, sepertinya masyarakat bumi ini suka sekali dengan yang namanya tragedi hidup, ya? Sejak publikasi pertamanya di tahun 1600an—yang jelas jauh sebelum nenek dan kakekmu lahir—Romeo and Juliet ternyata memang banyak sekali yang suka. Nggak ada bedanya dengan kita yang setiap hari nungguin episode terbaru Ikatan Cinta. Mungkin bedanya kalau sekarang kita nangis di depan TV, dulu penontonnya nangisin kematian Juliet langsung di The Globe, alias rumah teater yang jadi langganan Shakespeare untuk mementaskan drama-dramanya.

Omong-omong tragedi, seperti kebanyakan konflik-konflik yang terjadi, entah di drama Korea, entah di sinetron-sinetron FTV, masalah utamanya biasanya mirip: miskom! Coba sebut ada berapa film yang sebenarnya bakal selesai cuma beberapa menit saja kalau karakter utamanya nggak miscommunicate alias salah paham? 

Dua sejoli kita, Romeo dan Juliet ini juga sama saja. Kalau saja Romeo tahu Juliet cuma mati suri selama 42 jam saja (iya, pas 42 jam), dia jelas nggak bakal impulsif beli racun di apotek terdekat dan langsung meluncur ke kediaman Juliet dan bunuh diri di dekat peti matinya. Siapa yang nggak kaget, maksud hati menghindari masalah keluarga, apa daya sang (calon) suami ternyata salah paham dan ditemukan sudah tidak bernyawa tepat di sampingnya?

Memang pada akhirnya Romeo dan Juliet akan selalu bersama, sih, meskipun bersamanya di alam lain.

Terus, kenapa nder? Nggak, saya cuma penasaran kenapa kita nggak ambil contoh yang, menurut saya, jauh lebih so sweet dan konkret; kisah cinta Bu Ainun dan Pak Habibie, misalnya. Kalau masyarakat internet yang bilang, kisah beliau-beliau itu goals banget, deh. Benar-benar cerita cinta yang sehidup semati, sampai-sampai Pak Habibie menulis buku tentang kisah mereka setelah Bu Ainun tiada.

Atau, kalau mengikutsertakan nama presiden ketiga Indonesia ini dianggap nggak etis untuk iklan Spotify, bisa lah menggunakan karakter fiksi lain yang lebih uwu. Mungkin Hae Soo dan Wang So? Atau, Hazel Grace dan Augustus Waters? 

Ah, tetapi mungkin orang-orang jelas jauh lebih familiar dengan Romeo and Juliet dari pada The Fault in Our Stars. Akan lebih ngena ketika memunculkan nama mereka jika sedang membahas tentang cinta sejati dan sejenisnya—langsung, dor! Tepat sasaran.

Sungguh iconic kisah mereka berdua, sampai-sampai banyak orang tua menamai anak-anak mereka ‘Romeo’ dengan harapan si putra kelak akan menjadi anak yang romantis dan setia pada pasangannya. Semoga yang nyantol dari sifat Romeo asli yang baik-baik saja, ya, bukan yang bagian labil dan tidak berpendirian. 

Lagipula, daripada memusingkan perihal kematian Romeo yang konyol, Spotify jelas jauh lebih tertarik dengan kisah tragis antara dompet kita yang seret dan suara mbak mbak voice over yang senantiasa menemani kita begadang mengerjakan tugas sampai tengah malam. Buktinya, buat apa Spotify memunculkan paket mini yang cuma IDR 2,5 ribu berlaku selama sehari?

Bukan, saya bukan pegawai Spotify yang numpang iklan. Saya cuma membeberkan fakta. Fakta bahwa kita (saya pun) terkadang lebih memilih untuk mengisi perut dengan nastel daripada membeli paketan premium Spotify untuk sebulan. Apa lagi sekarang masih musim pandemi, cuan diirit-irit!

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started